nail dan dua anjing hitam
**
tiga puluh menit berlalu. bocah mungil berambut poni itu menunggu ibunya dengan duduk menyandar pada tembok sekolah yang berbatasan dengan pagar trotoar. mulai minggu lalu ia belajar di sekolah madrasah ini. namanya nail. ibunya selalu mengantar dan menjemputnya tiap hari. tak seperti biasanya, siang ini keduanya belum muncul.
teori relativitas einstein beraksi. terasa sangat lama ia telah mencermati angkot-angkot yang terseok-seok menyusuri aspal yang sehitam asapnya. berharap secepatnya salah satu angkot yang sewarna celana pendeknya berhenti dan mengeluarkan ibunya dari dalam tubuhnya.
berpuluh angkot melewatinya, tak satupun yang berhenti. apakah ibunya tak akan menjemput hari ini? pikirannya dengan cepat memutus analisa otaknya sebelum selesai membuat kesimpulan. bukankah binatang sebuas singa akan tetap melindungi anaknya dari bahaya yang akan merampasnya?.
untuk menuju sekolahan, ia harus dua kali berganti naik angkutan kota. pulangnya hanya sekali, namun harus menyeberangi lalu-lintas padat, serupa arus sungai banjir yang tak sesuatu pun bisa menghadangnya. keberisikan suara mesin mobil mirip suara-suara yang ia dengar saat ayahnya pulang pagi dengan aroma nafas naga.
nail duduk dibawah pohon, berlindung dari sinar matahari yang mulai memanas. kulit putihnya memerah dan bintik-bintik air di pucuk hidungnya kian membesar lalu meleleh. tangan mungilnya terlalu berat menjinjing tas yang berisi buku pelajaran sekolah, kaos dan celana pendek. hari ini ada pelajaran olahraga.
ia menoleh ke halaman sekolahnya. sepi. semua teman-temannya sudah pulang dengan mobil jemputan atau dijemput ibunya. pintu-pintu ruang kelas tertutup rapat, bel istirahat belum dibunyikan.
belum tampak kelebat tubuh ibunya.
tatapan matanya beralih ke jalan raya, mencermati mobil-mobil yang meluncur, berdesakan dengan sepeda motor dan orang-orang yang berseliweran menyeberang jalan yang kadang dengan berlari.
sebenarnya sekitar lima puluh meter dari tempat orang-orang menyeberang, jembatan penyeberangan yang terbuat dari besi kokoh berdiri. sebab kemalasan orang melewatinya, mungkin karena harus menapaki 30 anak tangga untuk mencapai keatas.
ia melangkah ke halte depan kuburan. letak kuburan tersebut persis bersebelahan dengan kelasnya. ia duduk, sederet dengan dua orang laki-laki berambut panjang. keduanya saya kira bukan pekerja kantoran. ia memakai sandal jepit dan berkaos oblong bulukan. bukan pula pengamen, tak terlihat membawa alat musik atau buku catatan puisinya.
kedua pemuda berbincang sambil merokok. nail sesekali melirik ke arah mereka. sebelum tatapannya beradu dengan salah satunya, ia langsung menoleh ke arah lain. begitu sampai tiga kali. ia bergeser menjauh ke ujung halte, berpura-pura sebagai penumpang yang menunggu angkot.
atap halte tak cukup mampu menghalangi sinar matahari yang belum tegak lurus di atas kepala. tenggorokan nail serasa tercekik pecahan kaca. tulang-tulangnya serasa makin lemas setelah mengikuti olahraga sepak bola. ia melihat warung rokok yang menjual minuman di samping halte, menatapnya lama dan air liurnya tertelan secara tak sengaja. uangnya ludes di meja kantin sehabis olah raga.
ia mulai mengabaikan mobil-mobil angkutan kota yang tak membawakan ibunya. diam-diam ia menyalahkan ibunya yang tak mengikutkannya pada mobil jemputan. alasanya, belum mempunyai uang.
ia memutuskan menyeberang. kaki kecilnya melangkah mendekati batas antara trotoar dan aspal. jalan warung buncit raya yang lebar dibagi menjadi dua jalur. jalur untuk kendaraan yang menuju ke arah kuningan dan jalur yang menuju ke arah ragunan. masing-masing jalur dibagi lagi menjadi dua lajur. dan diantara jalur itu diberi pagar besi pembatas warna warna biru. sewarna bendera partai yang bermarkas di seberang madrasah ini.
namun pagar besi pembatas hanya beberapa meter saja. selebihnya blok-blok semen setinggi sepuluh sentimeter. di ujung pagar batas ini orang-orang berlalu lalang menyeberang jalan atau berputar balik. ada yang berjalan kaki, bersepeda motor, bergerobak atau bermobil. memang tak ada rambu-rambu yang terpasang, baik yang menandai boleh menyeberang atau larangan menyeberang. minggu lalu, seorang laki-laki gendut tertabrak kontainer, terseret beberapa pulu meter. isi perutnya tumpah terburai.
nail mempersiapkan strategi untuk melangkahkan kaki mungilnya. ia menolehkan kepalanya ke kanan sembilan puluh derajat. otaknya sedang memperhitungkan kecepatan kaki yang harus ia langkahkan untuk bisa melewati jalan selebar delapan meter pertama itu dan menghindarkan tubuh kecilnya berbenturan dengan mobil atau sepeda motor. tak ada orang dewasa saat itu yang bisa dibarengi. dan ia enggan meminta tolong kepada dua laki-laki yang masih duduk-duduk di halte.
nail terus menatap pada arah datangnya mobil-mobil yang berdesingan, yang tak memberi kesempatan, meskipun ia telah melambai-lambaikan tangan kanannya yang mencengkeram kaos seragam. sesekali kaosnya dipakai untuk menutup kepalanya yang terpanggang matahari.
sepuluh menit ia berdiri di pinggir, saat yang tepat untuk menyeberang. perkiraanya, jarak mobil dengan dirinya memungkinkan untuk segera berlari. kelihatannya mobil carry perak berlari lebih lambat. namun dari sebelah kanan mobil, meluncur sepeda motor berkecepatan badai. nail menghentikan niatnya, mundur kembali ke trotoar dan menyandarkan punggungnya pada tembok kuburan. ia harus menunggu kesempatan berikutnya.
kini ia duduk di bawah bayangan daun mahoni yang menaunginya. matanya tetap nyalang mencermati mobil-mobil yang lewat. ia menatap aspal hitam yang mengepul-epul mengeluarkan uap transparan. mobil-mobil yang ia liat tampak membayang kabur.
ibunya mungkin masih dalam perjalanan.
ia mengarahkan langkahnya menuju jembatan penyeberangan. jembatan besi yang kusam, berkarat dan lengang. di sebelahnya tiang listrik yang ditempeli poster-poster kertas hvs putih yang `menawarkan tempat kost, penyewaan studio musik, katering dan lowongan kerja berdiri. di tiang listrik berkarung-karung sampah disandarkan. persis berada di mulut gang sawo yang berbatasan dengan dinding toilet sekolah yang bertuliskan "di sini kelak akan lahir seorang pemimpin bangsa".
bau pesing toilet dan sampah menguarkan aroma busuk menyengat. di atas aspal mengalir serupa sungai-sungai kecil warna kuning berlendir yang berhulu dari tumpukan sampah. biasanya sampah akan lenyap sebelum fajar. hari ini petugas kebersihan kota terlambat. atau mungkin memang malas karena kecilnya gaji. sampah siang ini berserakan, tumpah ruah ke aspal jalan.
satu persatu langkah kakinya menapaki anak tangga. beberapa anak tangga terlihat keropos dan bolong. ia harus melompatinya agar tak terperosok ke dalam lubang yang menganga. ketika mencapai anak tangga teratas, seekor anjing liar menghadang. anjing hitam rupanya telah mengaduk-aduk sampah mencari makanan busuk. ia terganggu dengan kehadiran makhluk kecil kelas satu sd itu.
nail mundur selangkah. tangannya meraba-raba, mencari batu. gagal, tak menemukan. kaos seragam olahraga ia acungkan disertai teriakan mengusir. anjing kudisan malah berdiri tegak menatap nyalang. seolah ia mengetahui keberanian nail yang dipaksakan.
mata merahnya mengingatkannya pada sebuah pagi buta. saat ayahnya baru saja pulang, entah darimana tak pernah mengatakan. ayahnya selalu berbicara keras. entah kenapa tiba-tiba dia melemparkan gelas, piring ke lantai. keributan itu kadang berakhir dengan lebam-lebam biru di wajah ibunya. kalau sudah begitu, nail berusaha menutup telinganya dengan guling, namun suara-suara itu tak hendak pergi.
seperti anjing di hadapannya saat ini. berbalik arah atau menunggunya pergi, pilihan satu-satunya. namun seberapa lama ia sanggup menantang panas sinar matahari?. ia memutuskan untuk turun. saat tubunya berbalik, nail meloncat dengan teriakan tertahan. kurang dari 5 meter dihadapannya berdiri anjing lain yang lebih menyeramkan.
kedua makhluk Tuhan itu seolah sepakat angin mencincang nail. mereka menampakkan gigi gerahamnya. lidahnya yang selalu menjulur meneteskan air bening yang menajiskan. ia menggonggong tiga kali mengusir nail. lalu duduk tepat di tengah-tengah jembatan penyeberangan.
nail berteriak minta tolong kepada dua orang yang masih duduk di halte. suara lemahnya membentur deru dari suara mesin-mesin yang berdesing. ingin dia melambaikan tangan setinggi-tingginya, namun tetap lebih rendah dari pagar yang berada di sisi-sisi jembatan penyeberangan yang tertutup baliho.
ibunya mungin mendapatkan masalah seperti dirinya?.
nail menurunkan tas punggungnya. ia mengeluarkan cutter dari dalam tasnya. pisau tipis nan tajam berkilat terkena sinar matahari. setiap hari senin ia selalu membawa pisau ini karena ada pelajaran ketrampilan. tadi pagi, bu guru mengajari cara membuat ketupat yang berbahan dari kertas. dan nail sangat suka memotong-motong kertas menjadi irisan-irisan yang sama lebarnya.
mampukah pisau cuternya mengoyak tubuh anjing-anjing liar? nail tak yakin. sebelum tangan mungilnya menyentuh kulit anjing, keduanya akan menubruk dan menggigit tubuh yang masih empuk itu.
nail meraba`baliho panjang ucapan selamat menunaikan ibadah puasa dari sebuah produk makanan. ia mengiris tali yang berada di empat ujung kain sampai terlepas. lalu ia mengikatkan kain panjang pada salah satu tiang pagar. pelan-pelan ia menuruninya. ternyata panjang kain hanya empat meter, setengah dari tinggi jembatan penyeberangan. nail tergantung berayun di atas mobil-mobil yang berseliweran.
seperti diperintah, semua kendaraan dari dua arah berhenti mendadak. mereka berteriak, "ada anak kecil bunuh diri di jembatan penyeberangan". suara-suara itu bersambungan seperti toa yang memanggil-manggil. tempat itu mendadak menjadi kerumunan raksasa orang-orang yang penasaran. nail yang makin tak tahan bergantung di kain, tak bersuara. sampai seseorang laki-laki berambut panjang membawa tangga, memeluk dan menurunkan nail.
ibunya entah kemana.
